Bahaya Riya’ dalam Beramal

Bahaya Riya’ dalam Beramal

إذا جمع اللهُ الأوَّلين والآخرين يومَ القيامةِ ليومٍ لا ريبَ فيه نادى منادٍ من كان أشرك في عملٍ عملَه للهِ فلْيطلبْ ثوابَه من عندِ غيرِ اللهِ فإنَّ اللهَ أغنى الشركاءِ عن الشركِ

“Apabila Allah mengumpulkan orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang terakhir pada hari Kiamat -di hari yang tidak ada keraguan dalamnya-, maka akan ada seorang penyeru yang menyeru, “Barangsiapa berbuat syirik yang ia kerjakan untuk selain Allah, hendaknya ia meminta balasan kepada selain Allah tersebut, sesungguhnya Allah tidak membutuhkan sekutu.” (HR. Tirmidzi : 3154, berkata : Hasan Gharib, dihasankan Al Albani dalam Shahihul Jami 482)

خرج علينا رسول الله صلى الله عليه وسلم ونحن نتذاكر المسيح الدجال فقال ألا أخبركم بما هو أخوف عليكم عندي من المسيح الدجال فقلنا بلى يا رسول الله فقال الشرك الخفي أن يقوم الرجل فيصلي فيزين صلاته لما يرى من نظر رجل.

”Rasulullah menemui kami yang sedang membahas tentang al-Masih Dajjal, lantas beliau bersabda:”Saya akan memberikan kabar kepada kalian tentang hal yang menakutkan daripada fitnah al-Masih Dajjal. Kemudian kami menjawab:”iya wahai Rasulullah.” Lalu Rasulullah menjelaskan:” Syirik yang samar (riya’ atau pamer) yaitu ketika seseorang shalat kemudian memperindah shalatnya karena sedang dilihat oleh orang lain. (HR. Ibnu Majah, 4204, dihasankan Al Albani dalam Shahihul Jami 2607)

Dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya : ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab : ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka. Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca al Qur`an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya: ‘Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab: ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya, serta aku membaca al Qur`an hanyalah karena engkau.’ Allah berkata : ‘Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) dan engkau membaca al Qur`an supaya dikatakan (sebagai) seorang qari’ (pembaca al Qur`an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka. Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah bertanya : ‘Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab : ‘Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.’ Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.’ HR Muslim

Penjelasan 

Riya’ adalah berlagak baik di depan makhluk dalam hal ibadah, atau membuat-buat indah di hadapan mereka. Rasulullah ﷺ menghitungnya sebagai bagian dari Syirik, serta memperingatkan umatnya darinya. Karena Riya’ sangatlah samar bagi kebanyakan orang yang melakukannya dan juga dapat merusak amalan serta membatalkannya. 

Faidah yang bisa diambil 

1. Kekhawatiran Rasulullah ﷺ kepada para Sahabat dari perbuatan Riya’ merupakan Peringatan bagi selain mereka agar lebih-lebih lagi berhati-hati darinya. 

2. Bisa jadi seorang yang Shalih terjatuh pada perbuatan Riya’ dalam keadaan dia tidak merasa. 

3. Amalan yang dikerjakan oleh orang yang Riya’ tertolak dan tidak diterima. 

4. Ancaman Adzab yang pedih bagi para pelaku perbuatan Riya’. 

Ad Durus Al Yaumiyah, Syaikh Rasyid bin Husain Abdul Karim, hal. 42-43

Share Anda adalah Bukti Cinta

Leave a Reply

Your email address will not be published.