Jimat..! Awas Bahaya

Jimat..! Awas Bahaya

قُلۡ أَفَرَءَیۡتُم مَّا تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ إِنۡ أَرَادَنِیَ ٱللَّهُ بِضُرٍّ هَلۡ هُنَّ كَـٰشِفَـٰتُ ضُرِّهِۦۤ أَوۡ أَرَادَنِی بِرَحۡمَةٍ هَلۡ هُنَّ مُمۡسِكَـٰتُ رَحۡمَتِهِۦۚ قُلۡ حَسۡبِیَ ٱللَّهُۖ عَلَیۡهِ یَتَوَكَّلُ ٱلۡمُتَوَكِّلُونَ

Katakanlah, “Kalau begitu, terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan bencana kepadaku, apakah meraka mampu menghilangkan bencana itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat mencegah rahmat-Nya?” Katakanlah, “Cukuplah Allah bagiku. Kepada-Nya lah orang-orang bertawakal berserah diri.” [QS Az-Zumar: 38]

عن عقبة بن عامر -رضي الله عنه- مرفوعاً: من تَعَلَّقَ تَمِيمَةً فلا أَتَمَّ الله له، ومن تَعَلَّقَ وَدَعَةً فلا وَدَعَ الله له، وفي رواية : من تَعَلَّقَ تَمِيمَةً فقد أَشْرَكَ.

Dari ‘Uqbah bin ‘Āmir -raḍiyallāhu ‘anhu- secara marfū’, “Siapa yang menggantungkan ‎tamīmah (jimat), maka Allah tidak akan menyelesaikan urusannya. Dan siapa yang menggantungkan ‎‎wada’ah (kerang untuk mencegah dari ‘ain), maka Allah tidak ‎akan memberikan kepadanya jaminan.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Siapa yang menggantungkan tamīmah (jimat), maka sungguh dia telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad dishahihkan Al Albani dalam Shahihah 492)

عن عبد الله بن عكيم -رضي الله عنه- مرفوعاً: مَنْ تَعَلَّقَ شيئا وُكِلَ إليه.

Dari Abdullah bin ‘Akīm -raḍiyallāhu ‘anhu- secara marfū’, “Siapa yang bergantung kepada ‎sesuatu maka ia akan dipasrahkan kepadanya.”‎ (HR. Tirmidzi, 2072, Ahmad 18736, dishahihkan Al Arnauth dalam Jami’ul Ushul 7/575)

عن عبد الله بن مسعود -رضي الله عنه- قال: سمعت رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يقول: إن الرقى والتمائم والتِّوَلَة شرك.

Dari Abdullah bin Mas’ūd -raḍiyallāhu ‘anhu- ia berkata, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Sesungguhnya jampi-jampi, jimat dan pelet (pengasih) adalah syirik.” (HR Ahmad 3614 dan Abu Daud 3883, dishahihkan oleh Hakim dan disepakati oleh Adz Dzahabi)

Penjelasan 

Tamimah (jimat) adalah sesuatu yang digantungkan oleh manusia berupa manik-manik, potongan tulang, atau semisalnya untuk menolak ‘Ain atau selainnya dan disebut jimat penjaga atau pelindung. Maka siapa yang menggantungkan sesuatu seperti itu yaitu dengan mengaitkan hatinya padanya maka Rasulullah ﷺ telah mendoakan keburukan baginya dengan tidak akan diberikan apa yang dia inginkan berupa mendapat kebaikan ataupun menolak keburukan, serta menggantungkannya merupakan bagian dari Kesyirikan. 

Faidah yang dapat diambil 

1. Siapa yang menggantungkan Jimat dalam keadaan meyakini bahwa jimat tersebutlah yang dapat memberi bahaya atau manfaat maka dia telah terjatuh pada Syirik Besar, karena telah meyakini bahwa ada yang bisa memberikan Madhorot dan Manfaat selain Allah. Adapun jika meyakini bahwa jimat hanyalah sebab saja maka itulah Syirik Kecil. 

2. Tidak diperbolehkan menggantung jimat walaupun berupa Al Qur’an, karena tidak pernah dilakukan oleh para Sahabat juga akan berpotensi untuk menggantungkan selain Al Qur’an, serta itu merupakan penghinaan terhadap Al Qur’an. 

3. Termasuk dalam perkara ini adalah menggantungkan kain tertentu, atau meletakkan Mushaf di dalam mobil untuk menolak ‘Ain (kesialan). 

Ad Durus Al Yaumiyah, Syaikh Rasyid bin Husain Abdul Karim, hal. 44-45

Share Anda adalah Bukti Cinta

Leave a Reply

Your email address will not be published.