Kaidah 1 : Ikhlas dan Mutabaah

Kaidah 1 : Ikhlas dan Mutabaah

Kaidah Pertama :

Agama Islam dibangun di atas 2 pondasi agung : Ikhlas dan Mutabaah (mengikuti) Nabi Shalallahu alaihi wa sallam.

Pertama : Ikhlas

Berdasarkan Dalil, Firman Allah :

وَمَنۡ أَحۡسَنُ دِینࣰا مِّمَّنۡ أَسۡلَمَ وَجۡهَهُۥ لِلَّهِ وَهُوَ مُحۡسِنࣱ

Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang dengan ikhlas berserah diri kepada Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan (QS. An Nisa : 125)

وَمَاۤ أُمِرُوۤا۟ إِلَّا لِیَعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخۡلِصِینَ لَهُ ٱلدِّینَ حُنَفَاۤء

Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama (QS. Al-Bayyinah 5)

قُلۡ إِنِّیۤ أُمِرۡتُ أَنۡ أَعۡبُدَ ٱللَّهَ مُخۡلِصࣰا لَّهُ ٱلدِّینَ

Katakanlah, “Sesungguhnya aku diperintahkan agar menyembah Allah dengan penuh ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. (QS. Az-Zumar 11)

Juga berdasarkan Sabda Nabi ﷺ :

إنّمَا الأَعمالُ بِالنِياتِ

Hanyalah amalan itu tergantung dengan niatnya (HR. Bukhari dan Muslim)
Kedua : Mutabaah (mengikuti) Jalan Nabi Shalallahu alaihi wa sallam. Maknanya, hendaknya amalan itu sesuai dengan apa yang telah disyariatkan oleh Nabi ﷺ, hal ini sesuai Firman Allah :

ٱلَّذِی خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَیَوٰةَ لِیَبۡلُوَكُمۡ أَیُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلࣰاۚ

(Allah) Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. (QS. Al-Mulk : 2)

Berkata Imam Fudhail bin Iyadh (menafsirkan ayat di atas) : “Amalan yang baik yaitu amalan yang ikhlas dan benar”, ada yang bertanya : “apa maksud dari amalan ikhlas dan benar..?”, Beliau menjawab : “Ikhlas adalah ditujukan untuk Allah dan benar adalah amalan yang berada di atas sunnah (jalan Nabi ﷺ).

Dalam Firman Allah yang lain :

قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِی یُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَیَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ

Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali ‘Imran 31)

Rasulullah ﷺ bersabda :

مَن عَمِلَ عَملاً لَيسَ عَلَيْه أَمرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintah dari kami, maka amalan tersebut tertolak (HR. Bukhari dan Muslim, dengan lafadz dari Muslim)

Dalam menyikapi tentang Ikhlas dan Mutabaah ini, manusia terbagi menjadi 4 kelompok :

1. Ahli Ikhlas dan Mutabaah
Merekalah cerminan dari إِیَّاكَ نَعۡبُد
(QS. Al-Fatihah 5) secara hakiki. Amalan dan ucapan mereka hanya untuk Allah, memberi, menolak, cinta, benci hanyalah karena Allah. Muamalah mereka, dhahir dan batin hanyalah mengharap wajah Allah semata. Tidak sedikitpun meminta balasan dari manusia atau ucapan terimakasih dari mereka. Tidak mencari kedudukan, pujian dan tempat spesial di hati manusia. Bahkan mereka menganggap manusia tak ubahnya seperti penghuni kubur, tidak bisa memberi madharat juga manfaat, tidak bisa mematikan, menghidupkan juga membangkitkan. Karena jika perbuatan itu semua dicari dari manusia itu menunjukkan bahwa dia tidak mengetahui kedudukan manusia, bahkan itu adalah bentuk kebodohan terhadap hakikat manusia dan bodoh dari mengenal Rabbnya.

Begitu juga amalan dan ibadah mereka semuanya sesuai dengan perintah Allah, yang dicintai dan diridhai-Nya. Amalan seperti inilah yang akan diterima oleh Allah. Yang mana Allah menguji manusia dengan kematian dan kehidupan adalah agar manusia benar dalam amalannya. Allah berfiman :

ٱلَّذِی خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَیَوٰةَ لِیَبۡلُوَكُمۡ أَیُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلࣰاۚ

(Allah) Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. (QS. Al-Mulk : 2)

Allah menjadikan semua yang ada di atas muka bumi ini adalah sebagai perhiasan bagi manusia, dan menjadi ujian bagi mereka siapakah yang paling bagus amalnya.

Berkata imam Fudhail bin Iyadh : “Amalan yang Hasan (baik) adalah amalan yang ikhlas dan benar”. Ada yang bertanya kepada beliau : “apa maksud amalan yang ikhlas dan baik itu..?”. Beliau menuturkan : “Sesungguhnya suatu amal, jika ikhlas tetapi tidak benar, maka tidak diterima, begitu juga jika benar tetapi tidak ikhlas, maka tidak diterima juga. Sampai amalan tersebut Ikhlas dan benar. Ikhlas adalah hanya ditujukan untuk Allah dan benar adalah amalan yang berjalan di atas Sunnah”. Inilah yang disebutkan dalam Firman Allah :

فَمَن كَانَ یَرۡجُوا۟ لِقَاۤءَ رَبِّهِۦ فَلۡیَعۡمَلۡ عَمَلࣰا صَـٰلِحࣰا وَلَا یُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦۤ أَحَدَۢا

Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi : 110)

Juga dalam firman-Nya :

وَمَنۡ أَحۡسَنُ دِینࣰا مِّمَّنۡ أَسۡلَمَ وَجۡهَهُۥ لِلَّهِ وَهُوَ مُحۡسِنࣱ

Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang dengan ikhlas berserah diri kepada Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan (QS. An Nisa : 125)

Inilah syarat diterimanya amalan yaitu ikhlas hanya untuk Allah dan mutabaah (mengikuti) perintah-Nya. Jika 2 hal ini tidak terpenuhi, niscaya amalan tersebut akan tertolak tidak diterima. Dan setiap amalan yang tidak berjalan di atas mengikuti perintah dari Allah, hanya berdasarkan pikiran dan memperturutkan hawa nafsu saja, tidaklah hal tersebut kecuali akan menambah jauh dari Allah azza wa jalla.

2. Seorang yang tidak ikhlas juga tidak mutabaah.

Yaitu seorang yang beramal tanpa mengikuti Syariat dan juga tidak mengikhlaskannya untuk Allah, seperti seorang yang memperbagus amalan-amalan yang tidak ada syariatnya di hadapan manusia dan dia ingin agar dilihat dan dipuji manusia. Mereka adalah makhluk yang paling buruk dan paling dimurkai oleh Allah azza wa jalla. Mereka termasuk dari bagian orang-orang yang Allah ancam, dalam Firman-Nya :

لَا تَحۡسَبَنَّ ٱلَّذِینَ یَفۡرَحُونَ بِمَاۤ أَتَوا۟ وَّیُحِبُّونَ أَن یُحۡمَدُوا۟ بِمَا لَمۡ یَفۡعَلُوا۟ فَلَا تَحۡسَبَنَّهُم بِمَفَازَةࣲ مِّنَ ٱلۡعَذَابِۖ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِیمࣱ

Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka dipuji atas perbuatan yang tidak mereka lakukan, jangan sekali-kali kamu mengira bahwa mereka akan lolos dari azab. Mereka akan mendapat azab yang pedih. (QS. Ali ‘Imran : 188)

Mereka senang melakukan kebid’ahan, kesesatan dan kesyirikan, tetapi mereka gila pujian sebagai pengikut sunnah dan orang yang ikhlas. Kelompok ini banyak terjadi pada mereka yang menisbatkan dirinya kepada ilmu, kefakiran dan ibadah yang sesuai shiratal mustaqim (jalan yang lurus), padahal mereka adalah pengusung bid’ah, kesesatan, riya’ (ingin dilihat) dan sum’ah (ingin didengar oleh manusia). Mereka adalah orang yang dimurkai lagi tersesat.

3. Seorang yang Ikhlas dalam amalannya tetapi tidak di atas mutabaah (mengikuti) perintah dari Allah.

Hal ini banyak terjadi pada orang-orang jahil lagi ahli ibadah, mereka menisbatkan dirinya pada kezuhudan dan kefaqiran. Setiap orang yang beribadah kepada Allah tanpa ada perintah dari-Nya dan mengira itu mendekatkan diri kepada-Nya, maka ibadah seperti ini ibarat seorang yang menganggap mendengar siulan dan tepuk tangan, berkholwat (menjauhkan diri dari keduniaan) sehingga meninggalkan shalat jumat dan shalat jamaah atau berpuasa pada hari dilarang puasa sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah.

4. Seorang beramal dengan Mutabaah sesuai perintah, tetapi tidak lillah (untuk Allah).

Seperti seorang beramal ketaatan tapi disertai Riya’, sebagaimana seorang yang berperang karena Riya’ (ingin dilihat), atau sebagai kesatria dan pemberani, seorang yang haji, membaca Alquran hanya untuk mendapat pujian. Maka secara dzahir merupakan amalan shalih yang diperintahkan tetapi tidak diterima. Allah berfirman :

وَمَاۤ أُمِرُوۤا۟ إِلَّا لِیَعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخۡلِصِینَ لَهُ ٱلدِّینَ حُنَفَاۤء

Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama (QS. Al-Bayyinah : 5)

Maka setiap orang diperintahkan hanya untuk beribadah kepada Allah sesuai yang Allah perintahkan dan mengikhlaskan (memurnikan) ibadah hanya untuk Allah semata. Merekalah Penghulu : (إِیَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِیَّاكَ نَسۡتَعِینُ) (QS. Al-Fatihah : 5)

Diterjemahkan dari kitab Al Ishbah fi bayani manhaj as salaf fi at tarbiyah wa al ishlah

Oleh : Rahmat Kurdiyanto

Share Anda adalah Bukti Cinta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *