Penentuan Awal Bulan Ramadhan

Penentuan Awal Bulan Ramadhan

Awal bulan Ramadhan ditentukan dengan dua cara:

Pertama

Terlihatnya hilal bulan Ramadhan sekalipun yang melihatnya hanya satu orang yang adil, berdasarkan haditsnya Ibnu Umar, dia berkata:

“تراءى الناس الهلال فأخبرت النبي صلى الله عليه وسلم أني رأيته فصامه وأمر الناس بصيامه”

“Orang-orang sedang mengamati hilal. Aku mengabari Rasulullah n bahwa aku melihatnya. Beliau kemudian berpuasa dan menyuruh orang-orang agar ikut berpuasa bersama beliau.” 73

Kedua

Jika hilal tidak terlihat karena suatu sebab -misalnya mendung- maka bulan Sya’ban digenapkan 30 hari. Dasarnya ialah hadits Abu Hurairah a, bahwasanya Rasulullah n bersabda:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ، فإنْ غُبِّيَ علَيْكُم فأكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ

“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah (ber hari raya) karena melihat hilal. Jika awal bulan samar bagi ka lian maka genapkanlah bulan Sya’ban hingga tiga puluh hari.” HR. Bukhari No. 1909, Muslim No. 1081

Imam at-Tirmidzi mengatakan: “Para ahli ilmu telah menegas kan untuk beramal dengan kandungan hadits ini. Mereka mengata kan: ‘Persaksian satu orang bisa diterima untuk penentuan awal pu asa.’ Inilah pendapat yang dipilih oleh Ibnul Mubarak, Syafi’i, Ah mad, dan orang-orang Kufah. Dan tidak ada perselisihan antara ahli ilmu bahwa jika untuk berbuka (berhari raya) tidak diterima kecuali persaksian dari dua orang.’” 

Dari penjelasan di atas dapat kita pahami bahwa metode dalam penentuan awal puasa Ramadhan adalah dengan terlihatnya hilal. Jika hilal tidak terlihat, maka dengan menyempurnakan bilangan bulan Sya’ban menjadi 30 hari. Inilah cara mudah dalam penentuan awal Ramadhan yang selayaknya diamalkan oleh seluruh kaum muslimin. Barang siapa menyangka bahwa dia mengetahui masuknya awal bulan Ramadhan dengan cara selain yang telah ditetapkan oleh agama sungguh dia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Contohnya adalah orang yang mengatakan wajibnya menggunakan metode hisab dalam penentuan awal Ramadhan, atau wajib berpegang dengan kalender. Perkara semacam ini tidak bisa diketahui oleh setiap orang, apalagi metode hisab mengandung kemungkinan salah. Cara dan metode semacam ini memberatkan umat padahal Allah mengatakan:

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُم فِي الّدينِ مِنْ حَرَجٍ

Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (QS. al-Hajj [22]: 78)

Maka, yang wajib bagi seluruh kaum muslimin adalah mencukupkan diri dengan apa yang telah disyari’atkan oleh Allah dan Ra sul-Nya. Marilah kita tinggalkan segala fanatisme golongan karena itu semua hanya akan menjauhkan kita dari menerima kebenaran. Marilah kita munculkan dalam hati kita rasa ingin mencari kebenar an meskipun hal itu harus bertentangan dengan sesuatu yang selama ini kita yakini.

Catatan

Barang siapa menyaksikan hilal seorang diri maka dia tidak boleh berpuasa kecuali bersama manusia umumnya. Dari Abu Hurairah a bahwa Rasulullah bersabda:

الصومُ يومَ تصومون ، والفطرُ يومَ تفطرون ، والأضحى يومُ تُضَحُّونَ

“Hari puasa adalah ketika kalian semua berpuasa. Hari raya Idul Fithri adalah ketika kalian semua berhari raya Idul Fithri. Dan hari raya Idul Adha, adalah ketika kalian semua berhari raya Idul Adha.” HR. Tirmidzi No. 697, Ibnu Majah No. 1660; dishahihkan al-Albani dalam ash-Shahihah No. 224.

Imam at-Tirmidzi mengatakan: “Sebagian ahli ilmu menaf sirkan hadits ini, bahwa puasa dan berhari raya itu bersama jama’ah dan umumnya manusia.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Barang siapa yang melihat hilal Ramadhan seorang diri dan persaksiannya tertolak, maka tidak wajib baginya puasa dan orang lain pun demikian.”

Disadur dari buku : Panduan Lengkap Puasa Ramadhan Menurut Al Qur’an dan Sunnah, Ust. Syahrul Fatwa bin Luqman dan Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar As Sidawi

Share Anda adalah Bukti Cinta

Leave a Reply

Your email address will not be published.