Titip Rindu Untuk Ananda Di Pesantren

Titip Rindu Untuk Ananda Di Pesantren

Titip Rindu untuk ananda yang di Pesantren

بسم الله الرحمن الرحيم . الحمد لله و الصلاة و السلام على رسول الله و على آله و صحبه و من والاه ، أما بعـد :

Anandaku di Pesantren manapun ananda menimba ilmu agama, semoga Allah selalu menyertaimu dengan rahmat dan inayah-Nya, ananda selalu dalam penjagaan Allah Ta’ala, baik kala berdiri, duduk, maupun berbaring, sehari-hari merasakan nikmat Allah yang tiada henti-hentinya Ia berikan, karena ananda sudah tahu saat kecil engkau sudah dibisikkan ayah-bunda kalimat Allah Maha Besar, Allah Tuhan kita, Allah Maha Pemberi Rezeki, dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Anandaku, di antara nikmat besar yang Allah karuniakan kepada ayah-bundamu adalah jalan menitipkanmu ke Pondok Pesantren yang telah Allah mudahkan, syukur pada Allah ananda dimasukkan ke pesantren, ananda mau, ayah-bunda pun mau, dan kemauan Allah di atas segala kemauan makhluk-Nya, syukur pada Allah ananda memilih menuntut ilmu agama, di jaman yang agama sudah dikesampingkan perannya dalam kehidupan sehari-hari, seorang agamis seperti asing di tengah keramaian, terkucilkan dari pergaulan teman, tetangga, dan masyarakat, dipandang sebelah mata , dianggap biasa-biasa saja, malah engkau dapati orang-orang lebih suka dengan fatamorgana dunia, tenggelam dalam kesenangan sementara, padahal hidup kita biasanya tak lebih dari 60 atau 70 tahun, dan tidak sedikit yang diwafatkan di waktu muda.

Sepintas, dalam benakmu ayah-bunda begitu kejam terhadap dirimu, engkau berpikir kami tak pedulikan dirimu lagi, kau sudah terbuang di pojok-pojok kehidupan, ketusmu… ayah-bunda sudah tidak sayang kepada anaknya, tega meninggalkan buah hati mereka, darah daging yang belasan tahun sempat hidup bersama di satu atap, ayah-bunda teramat kejam, sudah melupakan kebaikan-kebaikan ananda selama ini.

Ananda tahu ? Saat bunda atau ayahmu memeluk hangat dirimu yang mungil di akhir perjumpaan kalian beberapa saat sebelum bertolak pulang ke rumah, ada rasa haru dan pilu menyelimuti hati mereka berdua, tapi ayah-bundamu tutupi rasa itu guna mengajarkan kepadamu makna Tegar dalam hidup, anak Shalih/ah adalah anak yang tidak takut kehilangan siapapun dari makhluk Allah, toh ayah-bundamu hanya makhluk biasa yang suatu saat nanti akan berkalang tanah, berkainkan kafan, sedang hidupmu sepeninggal orang tuamu akan tetap terus berlanjut sampai tiba ajalmu nanti.

Siapa dari kami para orangtua yang tidak sedih melepas kepergian anandaku, tapi ada rahasia yang ananda harus ketahui, cukup ananda saja yang tahu, ini rahasia yang sebenarnya dengan bertambahnya umurmu, Insyaa-Allah, engkau tahu, sadar diri, dan memaklumi keputusan kami para orang tua, kebijaksanaan itu akan muncul pada seseorang seiring dengan umur yang bertambah, pengalaman yang beragam, akal yang sehat, dan kepekaan yang pada tempatnya.

Jujur, ayah-bunda itu amat berat melepasmu, sebelum sampai rumah, bundamu sembab matanya, basah pipinya, kosong pikirannya, lantaran sedih yang berlebih akibat meninggalkanmu, bila tiba di rumah, bunda ingat bayang-bayangmu, anandaku, sampai makanpun, biasanya untuk beberapa hari bundamu tak selera, mimpi pun yang ada bertemu denganmu. Bagaimana dengan ayah..? ohh, ayahmu tidak jauh beda keadaannya dengan bunda, hanya saja ayah lebih tegar dari bunda, sedihnya tidak terlalu ia tampakkan, ratapannya hanya Allah saja yang tahu, di sepertiga malam ayah selalu berdoa : “Ya Allah jadikan anakku shaleh, ya Allah jaga anakku, ya Allah bimbing anakku ke jalan yang Engkau ridhai”.

Anandaku , ayah-bunda pernah muda, pernah sepertimu, terkadang melihatmu ini membuat kami tertawa geli lantaran sifat-sifatmu yang menyerupai kami, kita hidup di jaman yang berbeda, ayah-bundamu sudah pernah menjalani hidup puluhan tahun lamanya, jauh sebelum dirimu dilahirkan, sebagai manusia yang dhaif, tidak mempunyai daya dan upaya kecuali karena pertolongan Allah saja, laa hawla walaa quwwata Illa billah, jatuh bangun dalam ketaatan kepada Rabb Sang Pencipta pun pernah dan selalu akan kami dan engkau alami, siapa di antara kita yang tidak bebas dari salah dan dosa.

Anandaku, ayah-bunda tahu bagaimana sempitnya hidup tanpa cahaya agama, betapa jauh dari Islam itu menyesakkan dada, mungkin kami punya segalanya, tapi jika jarak antara kami dan Allah begitu jauhnya, Allah tarik itu semua dari kami, kami binasa di dunia sebelum binasa di akhirat, kami khawatirkan jikalau engkau tidak kami pilihkan Pesantren untukmu, engkau akan menjadi seperti kebanyakan anak-anak di luar sana.

Anandaku, kami menyesali masa kecil kami yang jauh dari Al-Qur’an dan hadits, sedih karena tak pandai mengaji, hapalan kami hanya 3 surat terakhir juz Amma, membacanya pun salah-salah, kami menyesal karena tak hapal banyak mutiara hikmah yang keluar dari perkataan dan perbuatan Rasulullah ﷺ tercinta, kami tidak mau engkau melakukan kesalahan yang sama seperti kami, kami sudah merasakan pahitnya bodoh dalam bidang agama, kalaulah waktu itu bisa kembali puluhan tahu yang lalu, kami akan bersungguh untuk mengulangi sejarah hidup ini dari nol, tapi itu mustahil.

Kami sudah tahu dunia luar itu seperti apa, oleh karena itu, kami masukkan engkau ke pondok pesantren.

Anandaku, hari ini engkau menangis karena ditinggal pulang orangtuamu, lebih kami cintai dari pada esok hari engkau menangis karena rusaknya akhlakmu, sedikitnya pengetahuan agamamu, sempitnya dadamu, bahkan hinanya dirimu di hadapan manusia dan Allah Azza Wa Jalla, hari ini engkau menangis, itu tidaklah mengapa, kami doakan engkau menjadi ulama Rabbani untuk umat akhir jaman ini, buatlah kami bangga dengan ketegaranmu, kesungguhan thalabul ilmi-mu, tekad bulatmu menjadi pewaris para Nabi dan Rasul, jangan hiraukan kami yang di rumah, kami percaya rizki kami semakin ditambah dengan perantaramu yang tengah belajar qalallah qala Rasulullah

Anandaku….. tahanlah ucapan “aku tidak betah” di depan orangtuamu, kalimat itu akan mematahkan semangat mereka, melemahkan pikiran mereka, menambah galau mereka yang baru hampir saja hilang, saling mendoakan untuk kebaikan ayah-bunda dan dirimu, kami panjatkan doa ini selalu :

ربنا هب لنا من أزواجنا و ذرياتنا قرة أعين و اجعلنا للمتقين إماما…

Engkau pun membalasnya dengan :

رب اغفر لي و لوالدي و ارحمهما كما ربياني صغيرا .

Anandaku, ini yang terakhir…. kami mencintaimu dengan tulus, cinta kami ini adalah cinta seorang tua untuk anaknya, buah hatinya, belahan jantungnya, balaslah cinta kami ini dengan cinta pula, betahmu di Pesantren adalah cintamu kepada kami.

و صلى الله و سلم و بارك على محمد و على آله و صحبه أجمعين ، و آخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين .

Oleh Ust. Abu Khalid Yusuf, Lc

Dengan sedikit perubahan

Share Anda adalah Bukti Cinta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *